Home | Bisnis Makan | Arsip Artikel
 
Y O S I
Bisnis Makan | Posted Oct 05, 2009 17:46 PM Reh Franciska

Total Rating page ini : /5 Stars.
  • Currently /5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gambar Lainnya
 

Anak yang membantu orang tuanya berbisnis restoran dari dulu sudah jadi pemandangan biasa.  Lihat saja (kebanyakan di restoran chinese food), ada anak (biasanya perempuan) bekerja sebagai kasir.  Ada juga yang jadi supervisor atau controller, atau manajer restoran.

 

Di beberapa restoran bakmi, gak sedikit juga anak yang bantuin orang tuanya; bekerja melayani tamu, menerima pesanan hingga menyiapkan tempat duduk.

 

Sayang, sejauh yang saya perhatikan, anak-anak yang coba membantu ortunya berbisnis kebanyakan terlihat seperti robot.  Kaku, diam atau hanya mematung di pojokan.  Kesannya terlalu serius dan sama sekali tidak atraktif (boro-boro ngomong passion).  Beda banget dengan Yosi.

 

Padahal, Yosi bukan remaja yang sudah pintar berbisnis.  Dia juga belum jago 'merayu' orang supaya mampir ke restoran ayah-ibunya.  Yosi cuma seorang anak biasa, yang lagi lincah-lincahnya di usia yang saya taksir 16-17 tahun. Tapi, justru itu yang bikin orang tertarik masuk ke restoran milik orang tuanya (dan gak pindah ke restoran sebelah).

 

Waktu saya datang itu, Restoran Kopi Tiam (lengkapnya Eastern Kopi Tiam) di Perumahan Alam Sutera, Serpong, Tangerang lagi full  banget.  Maklum masih H+5 abis Lebaran.

 

Saya siap-siap keluar lagi dan cari restoran lain, tapi mata saya tiba-tiba terhenti pada satu pemandangan yang menarik.  Di depan saya (dekat pintu masuk, berarti juga dekat kasir) dengan posisi membelakangi saya, terlihat seorang anak perempuan yang "super sibuk". Bener-bener sibuk berat. 

 

Berkali-kali saya lihat dia meloncat-loncat dengan serunya. Kadang-kadang, bagaikan penonton musik rock kedua tangannya dia angkat ke atas kepalanya; untuk bertepuk tangan atau melambai pada seseorang.  Pokoknya seru banget deh.

 

Di tengah bisingnya suasana, saya masih bisa mendengar suara renyahnya.  "Tante, tante, tiga tante, tiga...!"

 

Tidak lama kemudian, suaranya terdengar lagi, "tante, yang itu udah tuh tante!"

 

Bocah yang penuh semangat ini memang sedang berkomunikasi dengan dua orang tantenya.  Saat itu keduanya berada di tengah-tengah restoran, tepatnya di antara meja-meja.  Mereka gak cuma mencarikan tempat kosong buat tamu yang baru datang tapi juga merapikan dan menggosok meja-meja itu sampai mengilat. 

 

Lagi asik-asiknya memperhatikan dari belakang, tiba-tiba sosok itu membalikkan badan.  Saya pun berhadapan langsung dengan sebuah wajah manis, agak bulat dengan sedikit keringat.  Gak ada tanda-tanda cape di situ; yang ada justru binar-binar semangat dalam mata sipitnya.

 

"Berapa orang om, tante," sapanya dengan senyum.

 

Detik itu saya baru ngeh.  Rupanya anak perempuan ini punya tugas mendaftarkan tamu yang belum dapat meja.  Begitu saya jawab pertanyaannya, secepat kilat dia memutar lagi tubuh kecilnya, menulis sesuatu di kertas (yang saya lihat sangat penuh coretan) dan dengan cepat kembali pada saya dengan sepotong kertas warna coklat yang bertuliskan "20".

 

Sungguh, saya mau ketawa menerima potongan kertas itu.  Masalahnya, kertas itu bukan kertas putih bersih (apalagi ber-laminating) yang biasa orang buat untuk nomor antrean.  Yang saya terima itu cuma kertas yang dia sobek sembarangan entah dari mana (gak heran, pinggiran kertas itu bergerigi karena cuma disobek dengan tangan). 

 

Tapi, dengan senang hati saya terima sobekan kertas itu.  Saya malah menganggapnya lucu dan kreatif; khas anak-anak. (Terbukti kemudian, waktu meja sudah tersedia dan potongan kertas itu saya sodorkan padanya, dia malah bilang, "kantongin aja om, tante!")

 

Habis menyerahkan nomor, si anak perempuan tadi langsung membalikkan badannya lagi.  Dia pun kembali melompat-lompat sambil berteriak, "tante, tiga tante; tiga!"

 

Itu juga tidak lama.  Setelah tantenya memberi tanda 'oke', lagi-lagi dia menoleh ke saya.  "Order dulu aja om, tante..., biar nanti gak kelamaan nunggunya," begitu katanya sambil menyodorkan lembaran kertas besar yang ternyata adalah daftar menu sekaligus lembaran order (kaya di Bakmi GM gitu loh).

 

Kertas itu saya terima dan langsung kami pelajari.  Waktu mengembalikan kertas tsb., saya lihat dia mengisi sesuatu pada bagian atas kertas itu (pada kolom "server").  "Yosi," itu yang ditulisnya  pada kolom tadi, dan gara-gara itulah saya tahu nama anak gadis ini.

 

Sesudah kami dapat meja, aktivitas bocah lincah itu jelas gak otomatis selesai.  Dia terus menyambut semua tamu dengan seru dan semringah.  Yosi terus melompat, berteriak dan bertepuk tangan.  Kalau tante yang dia panggil gak dengar, dia pun langsung lari ke tengah restoran, mendatangi tantenya itu.  Tenaganya sepertinya gak abis-abis.

 

Yang bikin makin seru dan tamu-tamu terhibur, Yosi gak sendirian.  Dia dibantu oleh adik perempuannya.  Meskipun lebih muda (mungkin 3-4 tahun), tapi adiknya Yosi ini gak kalah gesit.  Gayanya melompat-lompat dan teriakannya, sama serunya juga dengan sang kakak.

 

Malah, adik si Yosi ini memiliki kemampuan lari yang pantas diacungin jempol.  Minimal, tiga kali kami dibantu oleh kecekatannya itu.  Pertama waktu saya katakan bahwa kami gak punya sendok-garpu, dia langsung berlari ke satu tempat dan dalam beberapa detik kembali dengan sejumlah sendok dan garpu.

 

Kedua, waktu saya bilang kami belum punya sumpit, dia pun langsung terbang, dan segera kembali dengan beberapa pasang sumpit.  Ketiga, saya terpaksa memanggilnya karena pesanan Kwetiaw Goreng tidak kunjung datang.

 

Gak pake banyak tanya, gak pake tampang bete, adiknya Yosi berlari kencang ke dapur.  Sekitar 1 menit kemudian, keliatan dia sudah berlari menuju meja kami.  Kedua tangannya terangkat ke atas supaya sepiring Kwetiaw Goreng yang dibawanya gak tersenggol orang.

 

Heboh, seru, asik, entertaining... Itulah komentar kami soal sepak terjang Yosi dan adiknya.  Kami pun sepakat, kalau di Restoran Eastern Kopi Tiam ada yang mesti dikasih tip, mereka tak lain adalah Yosi dan adiknya; bukan para pelayan (yang jumlahnya cukup banyak tapi performa mereka kebanting abis sama dua bocah tadi).

 

Saya yakin, dengan semua kekanak-kanakan mereka, Yosi dan adiknya (sengaja maupun tak sengaja) sudah memberi contoh pada banyak orang; soal bagaimana melayani tamu; bagaimana membantu orang tua dan bagaimana bersikap menyenangkan pada setiap orang.  Berkat Yosi dan adiknya, gak cuma orang tua mereka saja yang bisa duduk santai di meja kasir.  Semua tamu pun merasa dihargai dan rela menunggu tanpa rasa kesal.

 

Soal Restoran Eastern Kopi Tiam sendiri, tanpa adanya Yosi dan adiknya saja sebenarnya saya sudah terkesan.  Makanannya oke, tempatnya nyaman, layanannya jempol.  Ditambah adanya 'atraksi' dari kakak beradik tadi, saya gak ragu buat balik lagi ke sini.


 
 
List Komentar
 
 
 
Login Member Area
Email
Password
 
     
 
Untitled Document
Forum
Makanan khas Nusantara
Tahapan I Set–Up Resto: Feasibility study/Business Plan
Kamu Siapa? Suka Makan Apa?
How To Be A Good Vegetarian?
Artikel Terpopuler
Hidup adalah pilihan
Warung Pasta: Pasta All Nite Long
Spizza : Neverending Promo
Dapur Buntut : Berani Tampil Beda
Tentang Kami
  Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya
Send Story
Contact Us
  © 2007 Temanmakan.com

      Home   |   Topik Makan  |   Cerita Makan   |   Ulas Makan   |  Berita Makan   |   Bisnis makan   |   Makan Sehat   |   Makan Unik   |    Forum   |