Sehari sesudah tahun baru (berarti tanggal 2/1) kami makan malam di luar rumah.Tapi, perjalanan yang sebenarnya mudah dan sederhana ini ternyata ribet juga akhirnya.
Beberapa tempat yang sudah kami incar dari rumah, antara lain restoran Pondok Kemangi dan Telaga Seafood (dua-duanya di Jl. Raya Serpong, BSD-Tangerang) terasa tidak lagi menarik begitu kami tiba di sana.Lahan parkir keduanya udah penuh, nuh, nuh...Kendaraan yang mau masuk pun jadi ikut ngantre.
Bumbu Desa sempat disebut-sebut sebagai alternatif.Tapi, gara-gara ingat cerita beberapa orang di milis, kami cuma lewat di muka restoran ini, terus tancap gas lagi.
Pilihan akhirnya jatuh pada Pondok Seafood Restaurant.Memang sih, begitu mendekat, kelihatan juga area parkirnya rame.Tapi, saat kami mencoba masuk, ternyata dengan cepat kami menemukan tempat parkir.
Di Perumahan BSD, restoran Pondok Seafood relatif selalu ramai sejak dibuka 3 tahun lalu.Letaknya yang di jalan utama tepat bersebelahan dengan Bread & Breakfast (sepertinya keduanya memang segrup) memang ideal.O ya, sebagai info, kedua resto ini juga punya cabang di Kemang lho.
Waktu kami masuk ke restoran sekitar jam 20.15, seorang pria yang cukup berwibawa (sepertinya manajernya) menyambut kami di pintu masuk.Selanjutnya kami dibiarkan mencari meja sendiri.
Gak susah sih; meskipun sebagian meja terisi, yang kosong juga banyak. Sayangnya, begitu kami duduk, gak ada lagi yang peduli sama kami.Pelayan (yang jumlahnya dikiiit banget itu) sibuk wara-wiri ke sana ke mari dengan langkah yang lebar-lebar.Tapi, satu pun gak ada yang menoleh ke kami.Boro-boro kami bisa pesan.Dikasih buku menu juga gak.
Mestinya kami langsung keluar buat cari restoran lain.Tapi berhubung udah hampir jam 8.30 kami pilih bertahan.Dengan menyabar-nyabarkan diri, saya bangkit dan mendekat ke dapur untuk memanggil seorang pelayan.
"Hmh, lagi banyak yang cuti ya mbak?"Begitu tanya saya dengan senyum yang dibuat-buat.
"Iya," jawab orang itu sambil menerangkan betapa sedikitnya pegawai yang masuk hari itu sehingga mereka kewalahan menghadapi tamu.
Saya gak merasa perlu memperpanjang diskusi.Saya percaya, apa pun alasannya, mau pada cuti keq, mau pada sakit keq, mau ada PHK keq, mau gempa bumi 8 skala richter keq, tamu/pelanggan gak bakal peduli (apalagi ikutan mikirin).Yang ada dalam kepala mereka cuma 'keinginan untuk puas'.Kalo servisnya jelek, tanpa mau tau alasannya, pelanggan toh tetap punya hak buat kapok alias gak bakal dateng lagi.
Jangan lupa juga (khususnya buat pengusaha rumah makan), kaya gimana pun kondisinya, tamu/pelanggan selalu punya hak buat menceritakan pengalaman buruk mereka pada siapa pun.
Untunglah, 4 menu yang kami pesan (gurame goreng kering, udang rebus, baronang bakar dan kangkung cah polos) datangnya relatif cepat.Rasanya juga lumayan. Cah kangkungnya (yang seperti biasa kami pesan tanpa rajangan cabe) malah saya golongkan pada kelompok "enak".Sayang seribu sayang, menjelang makanan ini habis, di bagian dasar piring kami temukan seonggok potongan cabe merah. Rupanya mereka lupa dengan special request kami.Lalu, sebagai 'jalan keluar', cabe itu disembunyikan di bawah.
Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya