Ngobrolin tentang makanan yang dibuat tidak sesuai dengan resep/bahan yang sudah turun-temurun emang gak ada habisnya.Pasti ada aja orang yang ngaco dan seenaknya menggantikan bahan yang satu dengan yang lainnya.
Saya ingat, di suatu tempat (kayanya gak cuma satu deh) saya pernah makan bubur kacang ijo (dan ketan item).Pas orangnya lagi bikin, saya perhatiin mereka memasukkan item-itemnya ke dalam mangkok.Mulai dari bubur kacang ijo, ketan item...
Pastinya semua orang tau dong, apa yang akan dituangkan setelah itu?Ya betul, santan!
Tapi saya lihat, jaman sekarang si penjual banyak yang tidak memakai air perasan kelapa tsb.Dan itulah yang saya lihat.Setelah bubur kacang ijonya dan ketan itemnya, yang dikucurkannya adalah susu kental manis warna putih saudara-saudara (untung bukan yang coklat).
Seperti biasa saya langsung tanya, "koq susu, bukan mestinya santen?"
Dengan santai si penjual ngejawab, "iya emang dari dulu pake susu.Tapi sama aja koq sama santen."
"Apanya yang sama!?" Tanya saya lagi.Kali ini bicara saya udah mengandung nada sebal.
Ya gimana gak sebal.Koq bisa-bisanya santan dibilang sama dengan susu kental manis?Asalnya aja beda (satu dari daging kelapa satu lagi dari hewan).Rasanya juga beda banget kan!?Susu kental ya cuma manis doang; sementara santan ada rasa sedikit asin/gurih yang bikin bubur kacang ijo makin sedep.
Sebagai penggemar krecek, saya juga perhatiin loh belakangan mulai banyak orang yang gak memakai krupuk kulit (padahal ini kan 'nyawa'nya krecek ya).
Secara sembarangan krupuk kulit mereka ganti dengan kikil (bener bok: kikil alias tulang muda pada kaki sapi) yang dipotong kotak-kotak.Rada mirip sih bentuknya sama krupuk kulit; tapi tetep aja beda.
Saya juga pernah tanya sama orang yang bikin dan lagi-lagi jawabannya, "sama aja koq."
Sebel gak sih dengernya!?Apanya yang sama sih, pak/bu!?Coba bayangin: krupuk kulit (yang udah diolah jadi krecek) kan empuk, gurih ada rasa asin sama sedikit pedes (karena bumbunya meresap).Sementara kikil, mau diolah gimana ya tetep kenyel (rada keras) dan gak gurih karena bumbunya gak meresap.
Yang semua orang juga tau lagi ngetren adalah kebiasaan banyak pedagang untuk tidak lagi menggunakan ketupat yang dibuat dari daun kelapa muda (janur) dan lontong yang dibungkus daun pisang.Ini biasanya dilakukan oleh tukang ketoprak, gado-gado sama lontong/ketupat sayur.
Sebagai ganti, mereka berinisiatif membuat sendiri lontong atau ketupat (susah ngebedainnya) dengan memakai kantong plastik (bener bok; plastik diisi beras terus direbus).
Lagi-lagi mereka bilang, "sama aja koq sama ketupat yang bungkusnya daun kelapa!"
Hehe...Di mana samanya sih pak/bu? Ketupat (karena dibungkus daun kelapa) dan lontong (karena dimasak dalam bungkusan daun pisang) jadinya memiliki warna kuning rada kehijauan.Biarpun sayup-sayup, lontong maupun ketupat yang asli pasti memiliki aroma yang tidak mungkin ditandingi oleh yang dibuat dari plastik.
Saya juga yakin, kalo diteliti (dari sudut kesehatan) pasti ketupat/lontong yang terbuat dari plastik tidak sesehat yang dibuat dari daun.Kesimpulan saya, pedagang yang mengganti sembarangan bahan-bahan yang sudah turun-temurun cuma malas doang mencari/mengolah bahan aslinya.Iya gak siiih??!
Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya