Pada tulisan saya sebelumnya, yang soal Bakmi GM itu, saya ada menyinggung soal sebuah restoran bakmi. Saya bilang, restoran bakmi ini belum apa-apa (alias baru buka), udah mengaku-aku bisa menyajikan macam-macam makanan (gak cuma bakmi). Antara lain ada gurame (segala jenis), terus ada capcay, ada fuyunghai, ada lindung, ada ayam goreng (segala macem), ada sapi lada hitam. Pokoknya serasa restoran Chinese Food yang udah mapan gitu loh.
Sebut aja resto ini bernama Bakmi J. Dulu, di jamannya baru buka (mungkin awal tahun 2004 ya), tempat ini emang heboh banget. Bermula cuma dari penjual bakmi gerobak pinggir jalan di kawasan Ciledug (Jakarta Selatan), berangsur dia mengalami peningkatan. Bikin kios kecil, bikin kios besar, bikin satu restoran dan terus buka cabang di mana-mana.
Saya ingat, di kawasan BSD dia buka cabang yang keempat. Waktu pertama buka..., wah. Luar biasa. Sampai berminggu-minggu, orang yang antrean terus padat. Mobil yang parkir di mukanya sampai 3 lapis. Tapi setelah itu, perlahan tapi pasti jumlah pengunjungnya menurun terus. Jumlah cabangnya, yang dulu lebih dari 25 juga makin menciut.
Di kalangan masyarakat awam (apalagi di kalangan orang pemasaran), sebenarnya Bakmi J ini sering dibahas sebagai contoh kesalahan strategi marketing. Saya aja yang buta pemasaran, bisa melihat dengan jelas beberapa kesalahannya. Pertama: keahliannya bikin bakmi ayam, koq bisa-bisanya bikin restoran yang mengaku bisa menyajikan macam-macam jenis Chinese Food. Kalo mau menambah menu, ya coba bertahap seperti Bakmi GM.
Kedua: pasti si empunya bisnis juga bermimpi jadi konglomerat kecil (di bidang kuliner. Lihat aja, belum apa-apa (baru 3-4 tahun) koq udah buka 25 cabang lebih. Bandingin deh sama Bakmi GM. Dari tahun 1976 sampe 2006, cabangnya cuma ada 6, Blok M, Jl. Sunda, Gajah Mada, Kelapa Gading, Puri Indah Mal sama SCBD Sudirman. Setelah itu, baru secara pelan-pelan, dia menambah lagi cabangnya. Itu pun gak sampe 20 lho.
Saya perhatiin, ketidaksabaran kepingin jadi konglomerat kecil itu juga banyak menimpa pengusaha kecil lain. Saya pernah punya temen yang berjualan burger. Beberapa bulan setelah buka, jualannya gak berapa rame. Ngelihat penghasilannya pas-pasan, eh tiba-tiba dia punya ide buat buka 2 cabang lagi. Dia pikir, kalo punya 3 cabang, berarti penghasilannya bakal jadi 3 kali lipat.
Benarkah gitu? Ya gak dunk. Kalo outlet yang pertama emang rame, sangat mungkin sekali bahwa outlet kedua bakal bikin penghasilannya berlipat. Tapi kalo outlet pertama udah sepi, terus dia bikin outlet kedua, ketiga, dst. Ya, bukannya penghasilan nambah tapi malah bisa jadi bangkrut dunk. Kan pengeluarannya bertambah buat beli bahan-bahan, sewa tempat dll. Sementara pemasukannya kan segitu-segitu aja.
|