Siang itu, sekitar jam 3, di sebuah tempat di Selatan Jakarta saya "terpaksa" berhenti di pinggir jalan.Mata saya tertuju pada sebuah pemandangan unik dan menarik di dekat situ.
Di pinggir jalan, di deket sebuah halte bis yang lumayan rame, saya lihat ada 8 orang (cewe/cowo) dengan seragam yang cukup mencolok.Ada 2 orang berpakaian serbaputih.Terus ada yang serbahitam dan serbamerah.
Yang unik (dan seru), mereka gak lagi duduk/berdiri dengan diam.Mereka melakukan berbagai gerakan atraktif, terkadang sampai melompat dan berlari kencang.Dari sisi sebelah sini pindah ke sana.Dari sana lari lagi ke mana gitu.
Mulut mereka juga gak cuma diam.Berbagai kata keluar dari mulut mereka, kadang-kadang sampai berteriak.Sesekali mereka juga menoleh ke satu arah lalu memanggil.
Setelah maju lebih dekat, saya baru tahu mereka itu siapa.Pada polo shirt yang mereka pakai, pada bagian dada kirinya (ada juga yang di punggung bagian atas) terpajang logo sebuah restoran masakan Itali yang udah kondang dari dulu (sebut aja namanya Peha).
Waktu "mengenali" siapa orang-orang itu, saya langsung tau apa yang mereka sedang lakukan.Mereka adalah karyawan (baru maupun lama) yang sedang berlatih.Iya benar, mereka lagi latihan dengan serius.
Pelan-pelan suara mereka mulai kedengeran."Selamat siang, selamat datang di Peha!"
"Bagaimana ibu..., apa sudah datang semua pesanannya?Kalau begitu, selamat menikmati hidangan di Peha."
"Baik pak/bu, saya ulangi lagi pesanannya, anu satu, inu dua, yang itu tiga.Mohon ditunggu kurang lebih 15 menit ya pak/bu.Kalau ada apa-apa silakan hubungi saya.Nama saya... ."
Jangan dikira mereka cuma berakting sesama mereka loh (kalo gitu mah gampang kale yaw).Hampir semua omongan yang keluar dari mulut mereka ditujukan pada angin (di depan mereka gak ada siapa-siapa).
Malah sekali saya lihat, seorang cowok dari kelompok itu mendekati sebuah angkot yang lagi berhenti dan dengan cueknya ngomong, "mau coba menu barunya pak?Kami ada pizza anu sama pizza anu...Atau mungkin mau coba pastanya?"
Gerakan yang mereka lakukan kebanyakan juga bukan dilakukan bersama teman, tapi sendiri-sendiri dan tanpa alat bantu. Jadi seperti pantomim gitu loh (meskipun gerakannya gak patah-patah).
Macam-macam gerakan mereka lakukan, seperti memasukkan pizza ke dalam oven, berlari membawa nampan, mencatat pesanan, merapikan meja dll.
Tidak berapa lama kemudian saya lihat seorang dari mereka menerima telepon.Selanjutnya ia pun mengumpulkan teman-temannya dan mengajak mereka masuk kembali ke restoran (yang berada sekitar 100 m dari situ.
Adakah teman melihat sesuatu yang menarik dari sini?
Kalau saya sih 'iya'.Kita semua pasti tahu, aksi yang dilakukan orang-orang berseragam tadi bukan main-main. Itu adalah semacam 'pelatihan' yang dijalankan guna meningkatkan kualitas pelayanan.Bayangkan, begitu pedulinya mereka terhadap kualitas pelayanan.Adakah restoran lokal menerapkan standar seperti ini?He, he...
Saya semakin salut ketika mengamati wajah-wajah mereka. Tidak ada tampang cemberut seperti terpaksa. Semua terlihat gembira.Terlihat bahwa mereka melakukannya dengan sepenuh hati.Mereka tak merasa malu berbicara sendiri atau berlari-lari seperti 'orang bener' di depan begitu banyak orang.
Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya