| |
Hidup adalah pilihan
Cerita Makan | Posted Jun 20, 2007 11:16 AM Arletta Danisworo
Total Rating page ini : 5/5 Stars
- Currently 5/5 Stars.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
|
Family Swimming by corbis image |
|
|
| |
Zaman dahulu, yang umumnya terkena penyakit degeneratif hanyalah mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Usia dimana seseorang sudah dianggap berumur atau dengan kata lain ‘tua’. Namun kini, usia tua bukan patokan kapan seseorang terserang penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, stroke, hipertensi, kanker dan sebagainya. Harian Kompas beberapa waktu yang lalu, sayang saya lupa tanggal persisnya, memuat sebuah artikel mengenai hal ini. Di situ dinyatakan bahwa penyakit degeneratif dewasa ini semakin banyak menyerang kalangan berusia antara 25 – 40 tahun. Bohongkah artikel ini? Sama sekali tidak, karena saya sudah menjumpai beberapa bukti nyata. Kakak ipar saya terkena stroke pada usia 30-an. Teman SMA saya mengidap diabetes di usia menjelang 30 tahun, kemudian juga kena serangan jantung. Bukti terakhir seorang teman yang kebetulan saja saya temui beberapa hari lalu.
Suatu hari teman saya, Reza Gunawan (praktisi penyembuhan holistik) menelepon. Dia meminta bantuan saya untuk menjadi MC di sebuah workshop kesehatan di Kemang. Selain Reza, seorang dokter bernama Dr. Tan Shot Yen juga akan menjadi pembicara di workshop tersebut. Saya berjumpa dengan Dr. Yen sehari sebelum seminar. Sosoknya mungil, tapi garis mukanya menyiratkan orang yang tegas dan keras. Tetapi karena kecuekan dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos bercampur bahasa gaul, Inggris dan juga logat-logat daerah lain, kita akan merasa akrab walau baru sebentar berjumpa.
Selain membahas acara workshop, saya juga diperkenalkan kepada 3 orang dalam tim pendukung workshop tersebut. Pada saat itulah saya menjumpai bukti nyata saya yang ketiga, ia bernama Norman. Pertama kali berjumpa saya hanya melambai saja karena Norman duduk sambil makan di ujung ruangan. Saat itu saya tidak melihat ada yang lain pada diri pria kurus, berkacamata dan agak botak ini. Tapi setelah dia berbicara, barulah saya menyadari perbedaannya.
Norman hanya sedikit berbicara dengan suara meyerupai orang tunarungu, istilah populernya ‘pelo’. Bercakap dengannya seperti berjumpa dengan orang asing dari lain bahasa. Butuh fokus luar biasa, pengulangan kata berkali-kali, serta pendengaran yang tajam supaya saya bisa mengerti ucapannya. Dan saya acapkali salah menerjemahkan. Untung ada Dr Yen yang lebih paham bahasa Norman.
Sepertinya putus asa, Norman akhirnya menghampiri saya sambil mengucap kata-kata yang asing di telinga. Saya merasa seperti peserta yang bodoh dalam sebuah kuis tebak kata. Sampai akhirnya dia menyebut sebuah kata dengan suara tebal. Dengan ‘pede’-nya saya menjawab, “ ITB? Bukan. Saya bukan lulusan ITB”, jawab saya karena saya pikir dia mengira saya adalah alumnus ITB. Ternyata salah, Norman geleng-geleng kepala. Saya cuma bisa menghela napas dan ikut frustrasi. Duuuh, ini orang mau ngomong apa sih? Kok gua nggak ngerti-ngerti! Pikir saya dalam hati.
Kemudian Norman kembali berucap, “Acing, acing, acing.” Acing?” ulang saya penuh tanya. Ia mengangguk, “Acing. ITB.” Baru saat itulah itu saya ‘ngeh’. Rupanya Norman menyebutkan nama panggilan mantan kekasih saya dulu! Sambil tertawa langsung saya jawab, “Oh iya, iya betul! Aceng itu pacar saya dulu…” Tapi apa hubungan Aceng dengan Norman? Setelah saya perhatikan lagi wajahnya dengan seksama, saya tersentak kaget. “Masya Allah… Oi, ya?” Dia mengangguk lagi sembari tersenyum. Langsung saja kami berjabat tangan dan berpelukan. Kaget bercampur sedih saya melihatnya. “Kok bisa seperti ini?” tanya saya dalam hati.
Saya mengenal Oi, panggilan akrab Norman, sejak tahun 90-an. Ia adalah teman seangkatan Aceng di ITB. Terakhir saya dengar kabarnya ia sukses menyunting pujaan hatinya. Seingat saya waktu itu Oi agak gemuk. Miris rasanya melihat keadaannya kini.
Dari cerita Dr Yen saya tahu kalau Oi terserang stroke pada usia 29 tahun. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Setahun keluar masuk rumah sakit, istrinya menceraikannya. Setelah hidupnya berantakan, Oi ke Jakarta dan bertemu dengan Dr Yen. Selain menjadi dokter, Dr Yen juga menjadi teman. Berbeda dari dokter lain, Dr Yen memberikan edukasi menyeluruh untuk menyembuhkan penyakit pasiennya. Dr Yen percaya bukan hanya penyakitnya saja yang harus disembuhkan tetapi pikiran dan juga jiwa si pasien. Oleh karena itu ia sering mengajak pasien-pasiennya berkumpul melakukan kegiatan bersama, seperti jalan-jalan, nonton film bareng, dan sebagainya.
“Suatu penyakit tidak perlu disembuhkan dengan obat-obatan. Cukup dengan merubah perilaku kita. Terutama perilaku gaya hidup yang tidak sehat. Salah satunya adalah pola makan”, begitu ujar Dr. Yen. “Kamu lihat tangan ini. Ini tuh bukan untuk nampar orang aja, tapi juga berguna untuk penakar,” katanya lagi. “Penakar?” saya bertanya-tanya. “Besarnya lauk atau daging yang kita makan itu seharusnya sebesar tangan kita. Tebalnya juga setebal itu. Jadi setiap orang kebutuhannya berbeda-beda.”
Setelah obrolan dengan Dr. Yen dan mengikuti seminar, saya makin sadar akan kebesaran Tuhan. Saya juga menyadari bahwa manusia sendirilah yang memicu penyakit dalam tubuhnya. Sebagian besar penyakit manusia disebabkan oleh makanan yang dikonsumsinya. Produk makanan instan, pengawet makanan, kelebihan karbohidrat, daging, serta kurangnya menu sayur dan buah menjadi sebagian faktor penyebab. Masih banyak faktor-faktor lain. Inti perkataan Dr. Yen adalah kita harus mengerti apa yang perlu kita makan. Bukan hanya sekedar enak dimakan apalagi makan yang hanya untuk memuaskan emosi.
Jujur saja, inilah yang agak sulit bagi saya dan tentunya para foodies karena umumnya kita adalah pemadat makan enak! Dan dengan menulis ini, mungkin saja website temanmakan.com bakal tidak laku, tapi saya tetap memilih untuk berbagi cerita ini. Karena hidup ini memang penuh dengan pilihan. Dan kita diharapkan untuk mengerti dan paham akan resiko yang diakibatkan oleh pilihan tersebut. Termasuk memilih untuk hidup sehat. Seperti kata bijak Dr Yen, “You know the facts and the choice is yours. You have the power to choose.”
|
 |
| |
|
Total Rating (1 votes)
|
- Currently 5/5 Stars.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
|
| |
|
|

| |
- Malam Seru di "Balkan"
Oleh-oleh dari Banff (2)
Di kota kecil dan sejuk (dingin maksudnya) bernama Banff, restoran junk-food (yang
- Santap Hangat di Cascade
Oleh-oleh dari Banff (1)
Pernah denger nama Banff? Ini adalah sebuah kota di bagian barat Canada
- Yang Penting Rame
Supaya man-teman gak bosen sama cerita pengalaman makan-makannya 'Teman Makan' di luar negeri, saya coba selingin
- UNTUNG ADA SAMBEL
(oleh-oleh dari Vancouver 3)
Siang itu (dari pagi seh sebenernya), kami habiskan dengan puter-puter ke
|
|
|