Jika Anda pikir tempat makan yang enak selalu hiruk pikuk dipadati pengunjung, Anda salah! Anggapan itu tidak berlaku untuk yang satu ini. Menempati lahan parkir sebuah bangunan di pinggir jalan, sang pemilik mengatur jarak antar meja dengan sangat manusiawi. Pengunjung akan merasa lebih nyaman karena tidak harus bersikut-sikutan.
Namanya, Bebek Abah. Tempat makan ini terkenal dengan menu nasi bebek. Ketika melihat daftar menu, stereotype menu bebek yang mahal langsung dipatahkan. Jadilah Nasi Paha Bebek menjadi sajian yang dipenuhi rasa penasaran. Kok bisa murah, rasanya gimana ya?
Tak lama bunyi percikan minyak terdengar, ternyata bebek pesanan saya sedang digoreng. Menggunakan sebuah wajan besar dipenuhi minyak yang banyak, satu paha nyemplung dengan mulus. Tidak lama ia langsung diangkat lagi. Minyak di wajan tampaknya sudah sangat panas sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk membuatnya matang.
Paha bebek tersebut langsung disajikan dalam satu piring rotan. Warna daging bebek cokelat keemasan ditemani dengan nasi yang diatasnya diberi bumbu gurih. Kemudian ditambah dengan lalapan dan sambal mangga. Tergiur, saya langsung ingin mencuil. Tapi ternyata, daging bebek masih sangat panas!
Begitu suhunya sudah jinak di tangan, suwiran daging pertama saya coba. Mmm...rasanya gurih, lembut, dan tidak amis! Saya seperti sedang makan ayam. Saking tidak percayanya daging bebek bisa selembut dan segurih ini, saya sampai bertanya langsung pada pelayan. Beneran daging bebek nih?
Slogan original recipe yang diusung Bebek Abah benar-benar original! Nasi bebek di sini hanya menyediakan bebek goreng bumbu kuning. Sama seperti bumbu ayam goreng kebanyakan. Tidak sampai di situ, coba campurkan bumbu gurih dengan nasi. Ditambah daging bebek yang dicocol sambal mangga rasanya benar-benar nyamleng! Belum pernah saya temukan di tempat lain. Sampai tidak sadar bisa menghabiskan satu paha bebek dengan cepat. Padahal biasanya, makan bebek harus bertarung dulu dengan dagingnya yang alot.
Penasaran? Cobain sendiri deh! Dijamin Anda akan datang untuk kedua, bahkan ketiga kalinya. (UM1/03)
|