Empat tahun lalu, waktu melayat ke Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut di Jakarta Selatan, saya sudah melihat tempat ini.Waktu itu saya udah curiga, "koq rame banget ya?"
Belakangan saya baru denger, ternyata tempat ini memang ngetop punya; kondang alias beken.Makanannya, yaitu sop daging sapi, bahkan jadi pembicaraan banyak warga Jakarta.Seorang teman malah cerita, suatu siang dia pernah bela-belain dari kantornya di Slipi untuk makan di tempat yang letaknya dekat dengan Gedung Ratu Prabu ini (lebih mudah dijangkau dari Tepi Tol Simatupang).
Jadilah siang itu saya samperin tempat yang berlokasi di Jl. Jeruk Purut 22 ini.Namanya Warung Betawi Berkah.Terpampang pula menu andalannya Sop Daging Betawi yang tersedia dalam 2 ukuran porsi; besar (dikasih harga Rp 30 ribu) dan kecil (harganya Rp 25 ribu).
Gak pake ragu, saya pesen satu porsi ukuran kecil.Dan, cuma dalam tempo satu menit, terhidanglah di muka saya satu mangkuk sop yang menggiurkan.Saya perhatikan, ukuran mangkuknya memang gak terlalu besar (lebih kecil sedikit daripada mangkuk tukang bakso biasa).
Saya cukup surprais juga karena meja yang saya tempatin tiba-tiba jadi lumayan penuh.Habisnya, yang diletakkan di muka saya gak cuma sop tadi, tapi juga nasi putih (yang porsinya gede banget); terus ada 3 piring mungil side-dishes, berupa sepasang tahu putih goreng, sepasang tempe goreng dan sepasang perkedel.Menyusul kemudian piring berisi sepasang krupuk aci.
Setelah memperhatikan satu-persatu hidangan itu saya mulai menyendok sop tadi.Saya sengaja belum membubuhinya pelengkap seperti kecap, sambal dll.Ternyata, sop dengan kuah bening itu (nyaris gak butek) udah lezat.
Kuahnya yang segar memancarkan dengan jelas rasa bawang merah dan putih serta (kalo lidah saya gak salah) sedikit jinten dan pala.Yang menurut saya mesti diacungin jempol, rasa yang paling menonjol dari semua itu adalah rasa daging sapi asli (bukan buatan dan bukan pula rasa bumbu penyedap).Ini menunjukkan bahwa kuah Sop Berkah ini dibuat dari daging (dan isi tubuh) sapi asli tanpa penyedap rasa.Seandainya pun memakai MSG, saya yakin cuma sedikit sekali.
Tentu, isi mangkuk sop juga gak lepas dari pengamatan saya.Beda dari beberapa sop di tempat lain yang punya isi "rame", sop ini beneran gak neko-neko.Gak ada kentang, wortel, buncis apalagi kol atau soun di dalamnya.Yang ada cuma potongan besar daging sapi (warnanya coklat kemerahan).Sebagai pemerindah, di atasnya ditaburi irisan daun bawang.
Setelah mencoba beberapa sendok sop tanpa pelengkap macem-macem, barulah saya masukkan sambal (dari cabe merah besar, bukan rawit loh yang diuleg kasar dan biji cabe yang banyak), kecap manis, lada plus sedikit kucuran jeruk nipis.Disantap dengan nasi..., wah, bener-bener top.Dagingnya yang empuk bikin santap saya siang itu unforgettable.
Warung Berkah buka tiap hari selama 12 jam, mulai jam 8 pagi.Dulu, konon tempat ini cuma kecil aja; mungkin cuma bisa nampung 20an orang.Tapi sekarang, 160 orang bisa muat sekaligus.
Buat 'mempertegas' kebetawiannya, rumah makan ini belakangan juga membuat sendiri dan menjual dodol khas Betawi; ada yang kecil, ada juga yang gede.Sayang, saya gak perhatiin harganya.
Produksi mereka lainnya adalah lepat bugis.Ada yang berwarna hijau (dari ketan biasa plus air daun suji), ada pula yang berwarna hitam (dari ketan hitam).
Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya