Apa saja barang yang biasa teman bawa kalau pergi ke luar negeri?
Jawabannya sebenernya gak sulit.Paling-paling kan pakaian, alat-alat perawatan tubuh (termasuk obat-obatan dan vitamin), alat komunikasi, surat-surat penting sama duit secukupnya.Sederhana kan?
He, he...Emang sederhandang bambang seh!Sayang, masalah ini bakal jadi gak sederhana (dan malah jadi ribet) kalo kita pergi ke luar negeri buat ketemu sama sodara deket kita yang udah lama tinggal di sono.
Kenapa gitu?Ya soalnya, sadar atau gak, kita pasti kepingin membawa semua benda (khususnya makanan) yang disukain sama orang itu.Gak percaya?
Saya sudah cukup sering berada pada posisi di mana saya mesti membantu keluarga deket yang hendak bepergian ke luar negeri (buat menemui kerabat yang ada di sana).Waduh..., minta ampun deh bawaannya.Percaya gak, bisa-bisa 2 atau 3 koper (dengan berat masing-masing 20 kg), penuh dengan aneka camilan.
Untuk dibawa bagi saudara yang ada di Belgia sama Belanda, yang tidak pernah absen dibawa adalah cemilan asem (yang bulat-bulat hitam berbalut gula pasir itu loh.Tentu aja gak ketinggalan jenis asem lainnya, seperti mangga yang dikeringin, kulit jeruk hingga kiamboy.
Penganan lain yang juga selalu ikut terbang melintasi benua adalah tingting kacang, petis udang, asem jawa, kripik singkong (biasanya merek Soponyono), emping (rasa udang) sama krupuk udang mentah.
Kadang-kadang, tergantung pesanan, dibawain juga makanan kecil yang merupakan produk hewan, seperti usus (ayam) yang digoreng renyah banget, paru (sapi) goreng, sama krupuk kulit.
Karena pemeriksaan di bandara-bandara Eropa relatif tidak seketat di benua Amerika, sodara di Belanda maupun Belgia sering juga nitip dibawain lauk.Gak tanggung-tanggung mereka minta rendang, ayam cabe ijo atau dendeng balado.
Udah bisa ditebak, mereka yang di Jakarta (dan mau berangkat ke luar negeri), dengan senang hati mencarikan makanan-makanan itu.Malah, kadang mereka membawakan "bonus" makanan lainnya, seperti kering kentang (plus kacang atau ebi), abon homemade (yang dagingnya disuwir-suwir sendiri terus digoreng renyah) serta kripik singkong balado.
Menjelang liburan tengah tahun, ada lagi di antara kami yang akan bepergian ke luar negeri.Tujuannya , juga untuk bertemu sodara yang tinggal di sana.Jadi, kehebohan mempersiapkan oleh-oleh yang mau dibawa pun kembali terjadi.
Sejak sebulan lalu perburuan mencari bumbu pecel yang terenak sudah dimulai.Segala variasi asem juga mulai dikumpulkan.Aneka jenis kripik pun perlahan bertumpuk di rumah.Belum lagi sagon, kwaci, bumbu-bumbu dapur yang instan maupun yang alami.Ada gula Jawa juga loh...
Wah, pokoknya banyak deh.Anak saya yang sempet ngeliat benda-benda itu masuk ke koper sampe bertanya, "mau jualan, ya?"
He, he...Anak saya gak tau.Barang-barang itu belum semua.Rencananya rombongan ini akan membawa juga (minimal) satu lusin Susu UHT (yang dalam kardus itu lho). Kabarnya di Eropa maupun di Amerika gak ada susu kaya gitu.Jadi anak-anak di sana seneng banget dibawain susu tsb.
Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya