Home | Makan Unik | Arsip Artikel
 
Romantisme Belalang Kayu
Makan Unik | Posted May 10, 2008 07:54 AM dauz

Total Rating page ini : 0/5 Stars.
  • Currently 0/5 Stars..
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Belalang by Dauz
Gambar Lainnya
Belalang
 

Belalang memang hanya serangga. Bagi banyak orang, serangga lebih dicap sebagai hama ketimbang bahan makanan, apalagi sumber protein. Tapi untuk Sinto (35) dan Pesek (30) belalang adalah sumber pendapatan yang lumayan untuk menambah pemasukan. Mereka biasa seharian menyusuri hutan jati di sekitar ruas jalan Wonosari-Pantai Baron, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Keduanya membawa galah bambu seukuran lima meter dengan oplosan lem tikus dan kapas di bagian ujungnya.

Di beberapa ruas jalan di Gunung Kidul, saat liburan Lebaran, para pedagang belalang (mentah) berderet-deret. Mereka tahu pasti inilah saat menangguk rejeki lebih dari hari-hari biasanya. Harga belalang pun melonjak tajam. Andang (29) , yang berjualan belalang di ruas jalan Wonosari-Ponjong, pada hari biasa hanya menjual lima renteng belalang hidup berisi 50 ekor seharga Rp. 10.000-Rp. 15.000, tetapi pada saat Lebaran bisa menjualnya seharga Rp. 25.000. ”Ya sekali setahun rejeki buat orang kecil ...,” tutur Anda.

Pedagang dan pemburu belalang ini tahu pasti, Lebaran adalah saat mudiknya para perantau asal Gunung Kidul. Kenyataan tersebut tentu kabar baik yang ditunggu-tunggu Sinto, Pesek, Andang, dan Tardjo (55), para pemburu dan penjaja belalang yang seumur-umur tak pernah meninggalkan Gunung Kidul. Setidaknya rejeki dari rantau itu menetes pula ke saku mereka orang-orang kampung.

Sementara bagi orang asli Gunung Kidul seperti Inah (55), yang sudah tinggal di Jakarta sejak tahun 1972, makna belalang lebih dari sekadar itu. Belalang adalah sejenis ’medium’ untuk mengembalikannya pada romantisme kampung halaman. ”Kalau belum makan belalang goreng, saya merasa belum pulang,” tutur Inah saat membeli belalang dari Tardjo.

Rasa belalang yang mirip-mirip udang itu pulalah yang membuat Suprapto (39), perantau asal Gunung Kidul yang tinggal di Bekasi, selalu ingin pulang. Selain menjenguk orangtua dan keluarga lain, keluarga ini selalu melungkan waktu untuk berpesta belalang goreng. ”Enggak tahu ya, bukan soal enaknya. Namun, belalang mengingatkan saya pada masa kecil,” tutur Suprapto.

Agak berbeda mungkin yang dirasakan Ella (52), pelancong asal Solo yang kebetulan berwisata ke Pantai Baron. Ia menyempatkan diri berhenti di sekitar alas jati untuk membeli seikat belalang. ”Dulu pembantu saya yang bawain, kebetulan dia dari Gunung Kidul, eh ternyata enak,” tutur Ella.

Asal-usul orang makan belalang di Gunung Kidul mungkin sulit dilacak. Setidaknya menurut pengakuan Giyadi (60), warga Playen, Gunung Kidul, sejak ia kecil belalang sudah dimakan warga setempat. Karni (55) istri Giyadi yang sedang menggoreng belalang di dapur untuk menu hari itu, juga mengaku sudah makan belalang sejak kecil. ”Ya tahunya sudah makan,” tutur dia.

Barangkali wilayah Gunung Kidul yang sebagian besar terdiri atas perbukitan karst yang gersang telah membuat mereka menjajal segala kemungkinan sumber pangan dan protein untuk bertahan hidup. Secara kebetulan di daerah itu pohon jati dan akasia ditanam warga sebagai pohon peneduh sebelum menggarap lahan pertanian di bawahnya. Pada pucuk-pucuk pohon itulah belalang kayu hinggap dan mencari makan. Para pemburu belalang yang tadinya hanya menangkap belalang padi, kini harus menggunakan galah dan lem tikus.

Jikalau dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB Sutrisno Koswara berpendapat bahwa pada serangga, termasuk belalang, ditemukan kandungan protein antara 40-60 persen, pasti bukan lantaran itulah orang Gunung Kidul menyantap belalang. Juga bukan lantaran meniru rakyat Zimbabwe dan Etiopia yang, antara lain, menjadikan belalang sebagai tepung bahan kue. Di banyak negara Afrika, belalang termasuk seranggga yang penting sebagai sumber protein.

Warga perantauan Gunung Kidul, seperti Inah dan Suprapto serta Agus (44) yang tinggal di Bandung, menikmati belalang sebagai camilan seolah mengesahkan keberadaan mereka sebagai pemudik. Belalang tidak hanya mengandung nuansa nostalgia, tetapi serangga inilah (mungkin) yang mendorong mereka pergi dan berhasil di tanah rantau. Belalang yang tadinya dicap sebagai penganan kemiskinan, saking tidak adanya sumber lain yang bisa dimakan, kini berbalik menjadi pelepas rindu kampung halaman, yang meski tetap miskin, tetapi menggelora dalam hati setiap warga Gunung Kidul. (MU1/05)


(Disarikan dari harian Kompas, 28 Oktober 2007)


 
 
 
 
 
Login Member Area
Email
Password
 
     
 
  • Ular Goreng
    Waktu itu sore hari. Anak saya Janice, 11 th, tiba-tiba nelpon dari rumah. "Mama aku tadi makan ular", suaranya ringan

  • Doggy Bumbu Pedas
    Ini cerita salah satu rekan kerja saya, James Pardunguan Butar-Butar. Waktu itu James masih SMP. Salah satu teman setia nya

  • Burung Merpati Bapak Kos
    Yang namanya anak kos, pasti pernah mengalami kiriman uang belum datang padahal duit makin menipis. Kalau sudah begitu,

  • Gurita Pembawa Maut
    Di salah satu episode film seri CSI (Crime Scene Investigation) New York yang ditayangkan di tv kabel, ada suatu kisah

Untitled Document
Forum
Makanan khas Nusantara
Tahapan I Set–Up Resto: Feasibility study/Business Plan
Kamu Siapa? Suka Makan Apa?
How To Be A Good Vegetarian?
Artikel Terpopuler
Hidup adalah pilihan
Warung Pasta: Pasta All Nite Long
Spizza : Neverending Promo
Dapur Buntut : Berani Tampil Beda
Tentang Kami
  Pernah gak abis makan di suatu tempat yang enak (atau interiornya unik) dan kamu jadi ingin banget ngasih tahu tempat itu ke saudara atau teman? Selengkapnya
Send Story
Contact Us
  © 2007 Temanmakan.com

      Home   |   Topik Makan  |   Cerita Makan   |   Ulas Makan   |  Berita Makan   |   Bisnis makan   |   Makan Sehat   |   Makan Unik   |    Forum   |