Mungkin sebaiknya saya peringatkan terlebih dahulu, terutama mereka para pencinta kucing, jangan membaca tulisan ini pasti Anda akan merasa miris dan pedih di hati.
Kalau kita ditanya apakah kita pernah makan daging kucing, Saya yakin sebagian besar dari kita pasti akan menggeleng karena memang sepertinya belum pernah ditemukan ada menu daging kucing yang ditawarkan oleh resto mana pun di Jakarta. Nah, buat masyarakat Tapanuli Utara, menu daging kucing bisa dengan mudah ditemukan di warung-warung makan atau lapo di Sumatera Utara.
”Mulai dari daging kucing goreng, semur daging kucing, sup daging kucing, daging kucing bakar, semua ada,” imbuh Ronny Pangaribuan, penikmat cutting edge food. Menurut pengakuannya, rasa daging kucing seperti kelinci dan lebih enak dari pada ayam. Kucing tua, kucing muda sama enaknya. Bedanya, kalau kucingnya tua, harus direbus lebih lama supaya empuk. ”Bagian kepala atau otaknya juga enak buat disedot”.
Yang hebat dari Ronny ini adalah kucing yang menjadi santapannya bukan hanya di lapo, tetapi ternyata ia juga ’menjarah’ kucing-kucing tetangga sekitar rumahnya untuk disembelih dan dibuat menu makannya.
Selain di Indonesia, di Guangdong China kucing juga biasa disantap sebagai ”water boiled live cat” atau kucing rebus. Cara yang dilakukan untuk mengolah kucing menjadi santapan memang sangat tidak berperikebinatangan. Pertama-tama, kucing dipukul lalu… langsung diceburkan ke air mendidih, hidup-hidup! Setelah itu dikuliti agar dapat diolah kembali.
Uniknya, seperti di restoran seafood yang mana kita bisa memilih ikan-ikan yang ingin diolah, pengunjung di resto di Guangdong juga bisa memilih sendiri jenis kucing yang ingin disantap. Mulai dari kucing biasa atau liar sampai kucing jenis Persia. Tentu saja dengan harga berbeda.
Agak mirip dengan ini adalah pengalaman Ronny. Di Tapanuli Utara, sebelum dimasak, si kucing dibenarmkan ke dalam air dingin atau dimasukin ke dalam karung goni lalu dibenturkan ke tembok! Duh, kejam sekali ya?
Komentar yang aneh dan menurut saya tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang koki di resto China tersebut. Meenurutnya semakin hebat siksaan yang diterima si kucing, maka rasa dagingnya akan semakin nikmat.
Beberapa negara lain yang penduduknya gemar menikmati daging hewan peliharaan tersebut adalah Vietnam Utara dan Korea. Di Korea malah daging kucing kerap direbus dan diminum kuahnya sebagai obat neuralgia & arthritis. Khasiatnya sepertinya belum pernah teruji secara klinis. Namun praktik semacam ini masih terus berlangusng. Alasan yang lebih terdengar seperti mitos datang dari China, kucing dimakan karena dagingnya dianggap bisa memberi kehangatan tubuh saat musim dingin. (MU1/06)
|