Peristiwa ini terjadi waktu saya tinggal di London. Putri kami telah berusia 2 tahun, dan saat itu istri saya baru melahirkan putra pertama kami di sebuah rumah perawatan dekat flat kami. Begitu putra kami lahir ke dunia, saya katakan pada si dokter bahwa saya ingin membawa pulang plasenta istri saya.
Plasenta adalah organ tubuh yang melekat pada rahim dan berfungsi menyalurkan makanan bagi si janin. Plasenta ini akan keluar seiring dengan lahirnya si bayi. Di negara-negara berkembang plasenta biasanya dibuang atau ditanam. Namun di beberapa negara – termasuk di flat kami di London – plasenta kami anggap sebagai bahan makanan. Sayang rasanya kalau dibuang. Lagipula, inilah organ yang telah memberi makan janin bayi kami dan meskipun kini si bayi tidak lagi membu- tuhkannya, plasenta ini tetap kaya akan kandungan protein, vitamin, dan mineral.
Istri saya diperbolehkan pulang keesokan harinya, dan saya merencanakan untuk memasak plasenta tersebut serta mengolahnya sebagai pate untuk disajikan ke para tamu yang datang. Waktu saya tanyakan ke dokter, beliau sih oke-oke saja walaupun raut wajahnya tampak bingung. Mungkin beliau teringat Hannibal Lecter ☺ Menurutnya, tidak ada masalah sepanjang plasenta tersebut dibekukan di dalam kulkas dan dimakan pada waktunya. ”Rasanya akan mirip seperti hati”, kata si dokter.
Yang jadi masalah adalah, bagaimana cara membawanya pulang. Tidak seperti restoran, klinik-klinik medis di sini tidak memiliki wadah styrofoam. Akhirnya saya menggunakan kantung plastik besar yang biasanya digunakan untuk wadah sampah. Sambil berjalan pulang (pukul empat pagi!) dengan kantung tersebut di pundak, saya sempat kepikiran bagaimana jika seorang polisi menyetop saya dan menanyakan apa isi kantung tersebut.
Untunglah hal itu tidak terjadi, dan keesokan harinya saya menumis plasenta tersebut dengan mentega dan bawang, lalu memotongnya kecil-kecil serta memasuk- kannya ke dalam blender sampai berwarna kecoklatan.
Ups, saya lupa menyisihkan urat-urat darah halus yang menempel di plasenta sehingga sejumlah tulang muda/rawan ikut termasak. Makanan tersebut saya sajikan dingin, dengan cracker gandum & potongan bawang merah sebagai garnish. Diluar dugaan saya, ternyata beberapa tamu kami mau mencobanya! (MU1/07)
(disarikan dari: Extreme Cuisine, The Weird & Wonderful Foods that People Eat).
|