Jaman masih sekolah dulu, kita diajari oleh guru kita tentang beberapa makanan pokok yang ada di . Selain berasi (nas, maksudnya), katanya ada masyarakat di yang sehari-harinya makan makanan berbahan dasar jagung; ada pula yang sagu.
Terpengaruh bangsa lain, kelas masyarakat tertentu sejak dulu ada yang terbiasa memakan roti sehari-harinya. Ada yang kemudian dipadukan dengan sayuran, ada juga yang mengkombinasikannya dengan daging. Tapi, pernahkah ada pelajaran di sekolah yang mengajarkan bahwa salah satu makanan pokok bangsa adalah mi instan? Pasti tidak!
Sayangnya, lama kelamaan fakta bahwa mi instan sudah menjadi 'makanan pokok kedua' di semakin sulit dibantah. Lihat saja buktinya: banyak orang rela hanya makan mi instan, kalau tidak bertemu nasi; banyak orang (ini fakta loh) makan mi instan setiap hari; hampir semua keluarga (dari yang pedagang asongan sampai konglomerat) punya stok mi instan di rumahnya.
Gara-gara itu juga tidak sedikit orang yang menyelipkan sekian bungkus mi instan bila pergi ke luar negeri. Selain sebagai oleh-oleh untuk teman sebangsa di sana, ya tentu buat dirinya sendiri. Pokoknya jangan heran deh kalau di dalam 10 dari 11 keranjang belanjaan orang di supermarket ada mi instannya.
Buat mereka yang terbatas hidupnya (ya terbatas secara ekonomi maupun kreativitas), paling-paling mi instannya dicampur sama telur dan caisim (sawi ijo). Yang lebih parah, mi instan itu ya cuma dimakan begitu aja. Tapi, buat yang lebih kreatif dan tau sedikit soal memasak, mi instannya bisa juga dilengkapi sama: kornet, bakso, sosis, daging burger, abon, tahu/tempe dan sayuran lain macam toge, kol atau wortel.
Gak cuma sebatas itu. Orang-orang yang lebih kreatif lagi dan punya intuisi tajam soal bahan makanan malah berani memadukan mi instan dengan aneka lauk-pauk sehari-hari. Mereka percaya, kalau nasi bisa cocok sama segala jenis lauk, mi instan pasti juga bisa. Jadi, plis jangan heran kalau melihat ada orang makan mi instan pakai opor, gulai, tongseng dan sebagainya.
Sebagai penguasanya industri mi instan di tanah air, Indomie jelas sudah mengendus pula 'modus operandi' penggunaan mi instan seperti itu. Karena itulah, seperti dipublikasikan di media massa mulai akhir Juni lalu, Indomie mengadakan Kreasi (= Kompetisi Resep Asli Indomie). Prosedurnya gampang aja koq, cukup kirim resepnya, foto makanannya (indomi yang udah jadi), plus kasih nama yang cool punya. Hadiah pertamanya 50 juta bok!
Kalau dipikir-pikir, event ini banyak positifnya loh buat kita semua. Buat yang taunya cuma Indomie campur telor doang, nanti bisa tau bahwa yang namanya mi instan itu sebenernya matching dengan macam-macam masakan lain. Buat yang selama ini udah sering berinovasi dengan mi instan, ajang lomba ini jelas bisa menjadi sarana buat memperkenalkan resepnya kepada umum (plus dapet duit dan resepnya dimasukin di buku 'resep Indomie loh).
Sementara, buat Indomie sendiri, biarpun ngeluarin jutaan perak buat hadiah, keuntungannya mungkin paling banyak. Yang pertama, penjualannya pasti meningkat secara signifikan. Masalahnya, tiap peserta lomba mesti mengirimkan 5 bungkus kosong Indomie (tiap 1 resep). Kedua, tanpa bersusah payah, Indomie bisa mengumpulkan ribuan resep (yang tentu akan menjadi 'milik' Indomie. Dengan modal resep-resep itu, kalau mau, Indomie bisa membuka satu restoran besar yang khusus menyajikan macam-macam menu Indomie loh.
Sementara, buat masyarakat luas keuntungannya juga ada. Minimal, kalau resep-resep itu udah dibukuin (rencananya sih gitu), orang gak cuma bisa bikin mi instan + telor dan sayur.